Peningkatan Spiritualitas
Peningkatan Spiritualitas akan terjadi bilamana kita memfokuskan waktu untuk disiplin kerohanian dalam rangka mendengar suara Tuhan yang meneguhkan dan melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ada seorang teman yang menggunakan analogi roda untuk menggambarkan elemen dasar dari suatu hubungan. Dalam setiap hubungan ada yg namanya berbicara dan mendengar, dan kedalaman hubungan tersebut bergantung pada kualitas dan konsistensi kedua elemen dasar tersebut.
Ketika diterapkan pada hubungan kita dengan Tuhan, berdoa adalah moment dimana kita berbicara dan mendengarkan suara Tuhan, serta melakukannya secara berulang-ulang adalah kebutuhan kita. Salah satu disiplin terpenting adalah disiplin mendengarkan suara Tuhan.
Pakar komunikasi mengatakan ada empat tingkat cara mendengarkan. Tingkat pertama adalah mengabaikan. Yang kedua adalah berpura-pura atau seolah olah. Ketiga, mendengarkan secara selektif. Tingkat keempat adalah apa yang disebut Steve Covey dalam bukunya Seven Habits of zhighly Effective Leader, sebagai mendengarkan secara empatik. Ia menulis, "Mendengarkan dengan empati akan masuk ke dalam kerangka acuan orang lain. Anda memperhatikannya, Anda melihat dunia sebagaimana mereka memandang dunia, Anda memahami paradigma mereka, Anda memahami perasaan mereka."
Saya percaya inilah tingkat mendengarkan yang Tuhan inginkan bagi anak-anak-Nya. Dia ingin kita bisa mengerti kehendakNya, melihat dunia sebagaimana Dia memandang dunia dan memahami perasaan-Nya. Raja Daud dipuji sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan; "Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kis 13:22).
Ketika kita mengenal hati Tuhan, kita akan tahu apa yang Dia ingin kita lakukan dalam setiap situasi.
Alkitab banyak bicara tentang mendengarkan. Untuk itu, berikut tujuh motivasi mempraktikkan disiplin mendengarkan Tuhan:
1. Tuhan sedang berbicara. Ibrani 1:1-2
Seperti yang Anda lihat, mendengarkan Tuhan adalah hal yang
penting! jadi bagaimana kita melakukannya?
Sering sekali kita selalu sibuk dengan aktivitas/rutinitas kita, sehingga tidak ada kesempatan mendengarkan Suara Roh Kudus. Untuk itu, perlu kita kaji, Bagaimana seseorang bisa memperlambat langkahnya untuk mendengar suara Tuhan, mendengarkan hati-Nya dan firman bimbingan dan hikmah-Nya yang meneguhkan?
Mari belajar dari Martin Luther yg berdoa sehari 2 jam, dan kalau dia sibuk dia berdoa 3 jam. Hal itu dilakukannya karena dengan fokus berdoa setiap pagi menempatkan nya pada posisi yang lebih baik untuk mendengarkan apa yg terbaik buat kita yang Tuhan inginkan.
Ketika kita mempraktikkan disiplin mempelajari Firman Tuhan (Ezraa 7:10, Kisah Para Rasul 17:11), hal itu memaksa kita untuk berhenti, fokus dan berpikir. Ketika kita mempraktikkan disiplin meditasi akan firman Tuhan (Mazmur 1:1-3), hal itu memaksa kita untuk naik ke tingkat ketenangan yang lebih tinggi. Saat kita merenungkan kebenaran Tuhan dan bersukacita atas segala firman-Nya, kita merasakan kestabilan, kenyamanan dan kesegaran dalam batin kita. Ketika kita mempraktikkan disiplin berdoa (Filipi 4:4-7), hal ini membantu kita mengubah arah dan membawa kita ke tingkat ketenangan yang hanya dapat dihasilkan oleh Tuhan. Ini adalah tingkat supernatural yang Paulus gambarkan sebagai "... Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal..." (Filipi 4:7). Saat kita berdisiplin puasa (Mazmur 35:13), itu mengurangi laju kita ke tingkat lain. Kita menganggap puasa sebagai pengalihan rutinitas normal untuk memusatkan perhatian kita pada Tuhan dan keinginan-Nya, sehingga mengekspresikan ketergantungan kita pada Tuhan. Ketika kita mempraktikkan disiplin ke tempat sepi (solitude) (Lukas 5:16), hal ini akan semakin memperlambat kita karena hal ini akan membebaskan kita dari banyaknya gangguan yang membuat laju kita tetap tinggi. Semua disiplin ini menuntun kita pada disiplin ketenangan atau keheningan (Mazmur 131:1-2), yang membawa kita pada tempat yang aman, tenteram dan nyaman. “Seperti anak yang disapih bersama ibunya…” (Mzm 131:2) Anak yang disapih datang kepada ibunya bukan untuk makan melainkan untuk beristirahat. Hal menyingkir dari keramaian menuntun kita pada keheningan lahiriah, namun keheningan menuntun kita pada keheningan batin yang memungkinkan kita mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas.
Salah satu disiplin ilmu yang membantu menyatukan semua hal ini adalah adalah penjurnalan. “Menulis jurnal adalah tempat di mana Anda menuliskan dan mencatat pekerjaan dan apa yang Tuhan sampaikan kepadamu, agar esok kita tifak akan lupakan.
Bayangkanlah Elia, seorang pemimpin yang frustrasi dan
bergumul dengan rasa tidak aman, ketakutan, dan depresi, yang mendapati dirinya
sendirian bersama Tuhan.
Allah berfirman kepadanya, _”Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan Tuhan!” Maka Tuhan lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului Tuhan. Tetapi tidak ada Tuhan dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada Tuhan dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada Tuhan dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: ”Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"_ (1 Raja-raja 19:11-13).
Bagi pemimpin yang lelah dan frustrasi ini, Tuhan tidak
berbicara melalui angin, gempa bumi atau api, namun dengan bisikan yang lembut.
Berapa banyak bisikan lembut yang terabaikan karena kita bergerak terlalu cepat
untuk mendengarnya?
Rev. Pimpinan Brades Sijabat, S.Th,M.A
Komentar
Posting Komentar