Misi Gereja dalam Pluralitas Agama

 


            Agama masih memainkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan manusia. Meskipun agama di masa kini tengah diperhadapkan dalam persaingan dengan perkembangan jaman, kelahiran berbagai ideologi serta sekularisasi. Untuk tetap relevan dan dapat diterima oleh para penganutnya maka setiap agama perlu senantiasa memperbaharui dirinya. Pembaruan itulah yang sedang dan akan dilakukan oleh gereja, di mana gereja menyadari dirinya sebagai salah satu bentuk keharusan dari kekristenan sepanjang waktu (ecclesia reformata semper reformanda). Cara pandang gereja yang dulunya menganggap dirinya sebagai satu-satunya institusi keselamatan kini harus bergerak ke arah yang lebih baik.  Gereja menyadari  akan adanya heterogenitas dalam masyarakat dan untuk itu gereja “diharuskan” untuk bersikap lebih terbuka terhadap keberadaan “yang lain” tanpa harus menghilangkan identitasnya. Gereja menyadari tidak mungkin untuk menghindari kontak dengan “yang lain”. Dalam kerangka itulah kemudian dibutuhkanlah suatu dasar teologi yang sangat diperlukan oleh setiap orang Kristen dalam menjalin kontak dengan yang lain, dan bagaimana gereja bermisi dalam keadaan tersebut.

Dalam keadaan seperti itu, para  teolog juga turut mengembangkan teologinya dan berusaha merumuskan pemahaman-pemahamannya dari berbagai latar-belakang sudut pandang,  hal itu bertujuan agar lebih mudah dipahami. Akan tetapi sebahagian orang menganggap hal itu tidak perlu. Hal inilah yang membuat adanya paham Fundamentalisme, yang muncul sebagai reaksi terhadap pengaruh sekularisme yang ada pada agama-agama. Mereka beranggapan bahwa kitab Suci agama itu  bukan tulisan manusia, tetapi wahyu langsung dari Allah yang tidak perlu dipandang dari berbagai sudut.     

            Begitu juga yang terjadi di wilayah Asia, di mana orang-orang  hidup dengan berbagai latar belakang agama, budaya, bahasa daerah, adat istiadat dan lain-lain. Berkenaan dengan itu, diakui bahwa keberagaman, secara khusus agama, sehingga sering terjadi perbedaan pemahaman terhadap penganut agama yang satu dengan agama lain, begitu juga sebaliknya, termasuk dalam agama itu sendiri. Dengan bermodalkan kebenaran ajaran agama atau pemahaman masing-masing, sehingga sering terjadi kesalahpahaman, dan menganggap diri lebih benar. Hal itu bukan saja terjadi dalam agama yang satu dengan agama yang lain, tetapi juga terjadi di dalam agama itu sendiri.

Bermisi dalam  masyarakat majemuk adalah terlibat dalam mengadakan  mengadakan Konsultasi agama secara Nasional, Studi Intensif Agama-agama (Pelatihan Kader Gereja bidang Interfaith atau dialog), Seminar Agama-agama tingkat Nasional serta  Dialog Lintas Agama dengan menekankan kerjasama dengan gereja-gereja di wilayah-wilayah, juga seminar Sehari yang berkaitan dengan isu-isu pluralisme.

Dalam melakukan dialog dengan penganut agama-agama lain, Paul Knitter melihat bahwa salah satu tantangan untuk melakukan dialog ialah masalah keunikan Kristus.  Kristus menjadi tolok ukur bagi keselamatan. Dalam bukunya No other name, secara harfiah  Knitter terlihat ingin mempertanyakan finalitas perkataan Paulus dalam Kis. 4:12; “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.[1]

Dalam kemajemukan agama, berbagai pengalaman dan pemahaman manusia tentang  keselamatan, sama kaburnya dengan manusia lainnya. Semuanya tergantung pada apakah ada persekutuan dengan Allah, yakni Allah Israel. Persekutuan itu dijanjikan kepada orang Kristen, asalkan mereka tidak meninggalkan iman mereka.[2] Seperti yang telah dikatakan oleh David J. Bosch, bahwa “misi Allah sendiri lebih luas daripada misi gereja”. untuk itu, ia menyarankan agar gereja terlebih dahulu “mencari dahulu Kerajaan Allah” daripada mencari kesejahteraan gereja, sehingga “semua akan ditambahkan” (Mat. 6:33) dan gereja akan sejahtera.[3] Umat Kristen pertama-tama harus menghayati Kerajaan Allah dalam komunitas mereka sendiri sebelum mereka dapat menghadirkan Kerajaan Allah dalam dunia. Dengan kata lain, tugas pokok dari kehadiran gereja di tengah kepelbagaian agama adalah bersaksi, menyatakan pengakuan imannya di hadapan dunia.

Dalam rangka kehadiran gereja dan orang Kristen di tengah kepelbagaian agama, maka perlu dibangun sikap etis dan inklusif. Sikap etis ini adalah sikap missioner dalam arti yang Injili yaitu membawa kabar kesukaan dari Yesus Kristus kepada semua orang, seperti yang dikatakan dalam Yoh. 10:6; Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini, domba-domba ini harus Kutuntun dan mereka akan mendengar suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala”.

Mereka yang menganut agama lain adalah domba-domba Allah, dan mereka belum mengetahui bahwa kita dan mereka adalah satu kawanan. Oleh sebab itu, mereka harus kita tuntun kepada kebenaran itu, sehingga kita bisa bersama-sama menerima dan masuk ke dalam Kerajaan Allah yang kekal itu. Hal ini dapat terwujud apabila umat Kristen mau terbuka untuk berdialog dengan agama lain, dengan dasar dialog yang bersifat Teosentris. Dengan kata lain, tugas gereja bukan untuk mengkristenkan mereka, melainkan untuk membawa berita keselamatan yang daripada Allah di dalam Yesus Kristus kepada semua orang.[4]

Pengalaman mengenai kebenaran dan anugerah di dalam tradisi agama-agama lain mendorong umat Kristen untuk mengakui bahwa jangkauan penyataan Allah meliputi seluruh ras manusia. Namun, bermacam-macam cara penafsiran manusia terhadap penyataan Allah, yang mendukung kekerasan dan menuntut penyesuaian dengan Kitab Suci dan tradisi agama itu sendiri. Yang membedakan agama Kristen dengan agama-agama lain ialah dalam peristiwa sejarah. Allah sungguh berbicara kepada dunia dan manusia melalui peristiwa Yesus. Tindakan Allah yang paling menakjubkan adalah mengutus anak-Nya, Yesus Kristus. Yesus Kristus diutus bukan hanya bagi Israel saja atau bangsa Yahudi saja, namun Allah mengutus Yesus Kristus untuk menebus semua bangsa manusia melalui kematian-Nya di kayu salib. Namun pembenaran Allah telah menyatakan diri (lepas dari Taurat), sebagaimana yang telah disaksikan oleh Taurat dan para nabi, yakni kebenaran Allah yang diberikan berdasarkan kepercayaan akan Yesus Kristus, kepada tiap-tiap manusia yang percaya, tanpa membeda-bedakan. Karena manusia telah berbuat dosa dan tidak mempunyai kemuliaan Allah.

Pernyataan ini juga didukung oleh Yohanes, meskipun ia belum ada pada zaman Musa, yang mengatakan bahwa kasih karunia dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus (Yoh. 1:17).[5] Oleh sebab itu, semua orang yang percaya (secara universal) dibenarkan juga secara cuma-cuma oleh Allah melalui penebusan di dalam Yesus Kristus yang ditetapkan Allah menjadi tempat perdamaian dalam darah-Nya. Demikian juga halnya Allah hendak menyatakan kebenaran-kebenaran di masa kini agar terlihat bahwa Ia sendiri benar dan membenarkan sekalian orang yang hidup dari kepercayaan akan Yesus (Rm. 3:21-26).

Dalam hal ini gereja dan jemaat dalam menjadikan dirinya saluran berkat bagi orang lain/ menjadi berkat bagi orang lain bisa terwujudnyatakan. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam lingkungan masyarakat seperti berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat seperti ikut dalam program kebersihan lingkungan, program kesehatan massal, aksi sosial dan juga berbagai macam yang terkait dengan  politik. Dalam hal ini bukan gerejanya yang aktif berpolitik, melainkan jemaatnyalah yang di dorong untuk berpartisipasi dalam hal itu.

Orang-orang Kristen masih kurang memahami kebenaran agama Kristen yang dianutnya sekaligus juga kurang memahami dasar (ajaran dogmatis) bagi diri mereka sendiri untuk menyikapi keberadaan agama lain. Seorang ahli yang bernama Karl barth mencoba  memberi gagasan bahwa dalam agama, manusia memberontak terhadap Allah (sebab manusia bermaksud mendahului untuk memiliki apa yang seharusnya ditunggu datang dari Allah), sedemikian sehingga menghindar dari penyataan ilahi dan menutup diri terhadapNya dengan mengusahakan tiruan Allah yang bertentangan dengan apa yang akan diberikan oleh Allah sendiri.

 

Magel Haens Sianipar, S.Th, M.Th

[1] Paul Knitter, No other Name,( London: SCM Press, 1985), 182.

[2]Cavin D’Costa, Mempertimbangkan kembali keunikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,     2002), 181.

[3] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang mengubah dan berubah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006),  795-798.

[4] D. Lumbantobing, Teologi Pasar Bebas, (Pematangsiantar: L-SAPA, 2007), 291-296.

[5] C. K. Barrett, The Gospel of John and Judaism, (Philadelphia: Fortress Press, 1975),  57.


Komentar