Misi Gereja Pada Masa Kini (Studi Etis Kritis Terhadap Praktek Misi Pada Masa Kini)
A. Pendahuluan
Berbicara mengenai Misi tidak terlepas dari bagaimana cara
mendefenisikannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Misi diartikan sebagai
kegiatan menyebarkan kabar gembira (euanggelion). Misi ini dilakukan
atas dasar pengutusan sebagai kelanjutan misi Kristus (missio Christy) di
dunia.[1]
Kata “misi” adalah istilah bahasa Indonesia untuk kata Latin mission yang berarti perutusan.[2]
Arie de Kuiper berpendapat bahwa misi Kristus atau Missio Christi,
diartikan sebagai pengutusan Kristus
dalam arti[3]:
a. Kristus diutus
Allah (Yoh. 20:21)
b. Kristus mengutus murid-muridnya
Seluruh pengertian di atas akhirnya berpuncak pada istilah Missio Dei, yakni keseluruhan pekerjaan
Allah untuk menyelamatkan dunia yang dimulai dengan pemilihan Israel, pengutusan para nabi kepada
Israel dan kepada bangsa-bangsa sekitarnya, pengutusan Kristus kepada dunia,
pengutusan rasul-rasul dan pekabar-pekabar Injil kepada bangsa-bangsa.[4]
Melalui pengertian di atas, terlihat bahwa subjek dari misi tersebut adalah
Allah sendiri, sedangkan objeknya adalah alam semesta secara umum dan manusia
secara khusus dalam rangka pewujudnyataan kerajaannya di bumi.
Misi tersebut dilakukan Allah pertama-tama dan terutama adalah untuk
mewujudkan kasihnya kepada dunia. Bagaimanapun tidaklah mungkin, kasih tersebut
dapat dilihat dan dirasakan jika Allah tidak menunjukkan kasihnya melalui
ciptaannya. Dalam rangka pewujudnyataan kasih tersebut, pertama-tama Allah
telah menjadikan alam semesta sebagaimana yang diimani dan disaksikan oleh umat Israel (Kej.
1:1-2:4a; 2:4b-25). Secara sederhana, misi yang dilakukan Allah atas seluruh
ciptaan terumus dalam Missio Dei,
yakni keseluruhan pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia.
Pendasaran misi gereja pada Kitab Suci pertama-tama bukan untuk
menemukan legitimasi biblis bagi misi yang sedang dijalankan gereja pada masa sekarang. Hal yang perlu
dilihat adalah peranan misi dalam keseluruhan sejarah penyelamatan Allah yang pelaksanaannya
mencapai puncak pada diri Yesus Kristus. Sejalan dengan hal tersebut, pertanyaan
yang dapat dimunculkan dalam hal ini adalah apakah misi yang dipahami dan
dilakukan oleh gereja (baik melalui perorangan atau badan penginjilan) telah
sesuai dengan maksud Yesus?.
Melalui tulisan inilah penulis
ingin membahas bagaimanakah misi gereja pada masa kini, apakah dalam rangka
untuk melaksanakan amanat agung yang disampaikan Yesus dalam rangka melayani?
Atau justru hanya membesarkan gereja saja dalam rangka kekuasaan.
I. Misi Alkitab
a. Misio Dei dalam narasi penciptaan-penghukuman Adam dan Hawa-Damai Eskatologis
dalam narasi penciptaan, Misi Allah
dalam cakupan yang luas sesungguhnya sudah ditampilkan, bagaimana Allah mendiptakan keteraturan dan melihat
bahwa semuanya itu baik. Berulang kali kata “ baik” itu ditampilkan untuk
melihat adanya kecenderungan perhatian yang menyeluruh terhadap masalah
keteraturan yang diciptakan Allah tersebut. Dalam penciptaan itu pada akhirnya
menuai kontroversi dimana manusia kemudan mengacaukannya dalam pemberontakan
terhadap Allah.
Kejatuhan ke dalalam dosa membuat
kemudian adanya pemasalahan dalam misi Allah yang besar tersebut. Namun melalui
adanya Firman Allah yang memunculkan adanya pengampunan dan kasih yang tak
terbatas sesungguhnya menggiring manusia itu untuk kembali ke dalam Misi Allah
yang besar itu. itu ditampilkan dalam Kej 3:15 dimana Allah menjanjikan adanya
kembali bagaimana janji Allah dan misinya itu akan di kembalikan dan
diwujudnyatakan.
Dalam narasi Nabi Yesaya juga, sebuah nubuat nabi Yesaya yang menyatakan damai eskatologis yang memuat adanya keterturan kembali dimana seluruh ciptaan hidup dengan damai, bukan hanya antar manusia namun juga dengan seluruh ciptaan (Yesaya 11:6-7). Dalam Markus 16 juga ditampilkan melebihi Matius 28 dimana Allah bermisi bukan hanya untuk manusia, namun juga kepada semua ciptaan.
b. Missio Dei sejak permulaan Pengutusan Abraham
1. Pengutusan Abraham Sebagai Permulaan Misi
Sejarah misi Allah terlihat melalui pengutusan Abraham.
Abraham dipanggil dan diutus Allah untuk mengawali sejarah keselamatan (Kej.
12:1-3). Dalam peristiwa ini, Abraham harus meninggalkan negeri dan keluarganya untuk segera mempercayakan dirinya pada
bimbingan Allah. Dengan pemanggilan dan pengutusan Abraham, maka suatu babakan
baru dalam sejarah keselamatan telah dimulai, yakni sejarah misi, sejarah yang
dirancang oleh Allah sendiri.
Perjanjian antara Allah dengan Abraham (Kej. 12:1-3) adalah sebuah perjanjian misi yang digenapi Allah melalui peristiwa exodus. Melalui peristiwa exodus, Israel menjadi milik kepunyaan Allah dan Allah menjadi Tuhan atas mereka (Kel. 6:6-7). Dalam pemenuhan janji tersebut, Allah tidak hanya sekedar mengutus Musa kepada bangsa Israel, tetapi lebih daripada itu, Allah memperkenalkan dirinya kepada mereka (Kel. 3:14-15) bahkan Allah menuntun (Kel. 13:17-22) dan memenuhi kebutuhan mereka selama perjalanan tersebut (Kel. 16:1-36). Melalui peristiwa exodus, Allah memilih bangsa Israel sebagai alat penyataan kasihnya kepada bangsa-bangsa lain, kepada seluruh ciptaan. Dengan pemilihan bangsa Israel, maka misi Allah atas dunia kembali dinyatakan.
2. Pemanggilan Nabi-Nabi Sebagai Kelanjutan Pemanggilan Abraham
Dalam perjalanan selanjutnya dari sejarah Israel, Allah
melanjutkan misinya melalui pengutusan para nabi. Melalui nabi-nabinya, Allah
menyampaikan kehendak-kehendaknya atas Israel. Di dalam masa para nabi, Allah
memberkati bangsa Israel atas perbuatan mereka. Namun demikian, Allah juga
memberikan penghukuman kepada bangsa Israel atas perbuatan mereka. Berulangkali
bangsa tersebut berpaling dari Allah dan menyembah ilah-ilah bangsa asing yang
berada di sekitar mereka. Namun demikian, berkat Allah tidak berakhir sampai di
situ. Atas penderitaan yang mereka alami, bangsa Israel berharap akan adanya
tokoh mesianis yang akan membebaskan mereka dari segala penderitaan.
Penulis surat Ibrani menuliskan “Setelah pada zaman dahulu Allah berulangkali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada masa setelah itu Ia telah berbicara kepada umatnya dengan perantaraan Anaknya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada” (Ibr. 1:1-2). Inilah sebuah transformasi misi yang dirancang oleh Allah. Babakan baru dalam sejarah misi Allah berlanjut hingga Allah mengutus anaknya yang Tunggal, yakni Yesus (Yoh. 3:16).
3. Pengutusan Kristus sebagai penyempurnaan Misi Allah
Dengan diutusnya
Yesus ke tengah-tengah dunia, Allah kembali melakukan pewartaan kerajaan Allah.
Masa ini adalah masa di mana Allah sedang memulai suatu masa baru dalam sejarah
pergaulannya dengan manusia.[5]Pewartaan
Yesus mengenai Kerajaan Allah adalah pewartaan mengenai Allah. Yesus tidak hanya
mengajarkan bagaimana manusia harus siap menyambut kerajaan Allah, tetapi juga
bagaimana ia harus bersikap menghadap Allah sendiri yang diakui sebagai Tuhan
dan Bapa. Pewartaan Yesus tidak hanya berpangkal pada tuntutan situasi khusus
yang disebabkan oleh kedatangan Kerajaan Allah, tetapi secara umum mengemukakan
tuntutan kesucian dan kebaikan Allah.[6]
Kerajaan itu sungguh-sungguh menuntut ketaatan manusia; tetapi pemerintahan itu
sudah ada sebelum tuntutan diajukan, dan masih ada walaupun tuntutan itu
ditolak.
Dalam rangka pewartaan Kerajaan Allah, Yesus mengajarkan tentang kehendak Allah atas manusia ciptaannya. Misi pengutusan yang dilakukan oleh Yesus itu dilanjutkannya dengan memilih, memanggil dan mengutus murid-murid untuk kemudian menjadi saksi atas karyanya di bumi. Mereka dipanggil tidak hanya sekadar untuk mendengarkan dan menerima khotbahnya tentang Kerajaan Allah, tetapi untuk menjadi pengikutnya yang istimewa. Yesus mau menjadikan mereka muridnya yang dapat ikut ambil bagian pada hidup dan karyanya (Mrk. 3:13-14; 1:14), sehingga wajar bahwa Yesus sejak masa awal karyanya memberikan beberapa instruksi kepada mereka sebagai persiapan. Dan dikemudian hari gereja melanjutkan misi ini.
II. Misi Gereja Sebagai Kelanjutan Dari Pengutusan Kristus
a. Gereja adalah persekutuan orang percaya
Gereja adalah persekutuan orang percaya yang telah
dipanggil keluar dari kegelapan dan memasuki terang untuk menjadi berkat dengan
jalan berkarya memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Allah di tengah
dunia. Defenisi sederhana tersebut sangat jelas tertulis dalam1 Ptr. 2:9 :
“Tetapi kamulah
bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus umat kepunyaan
Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari
Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangnya yang
ajaib”.
Dari defenisi tersebut di atas dapat dikatakan bahwa gereja
bukanlah sebatas gedung atau bangunan yang di dalamnya umat kristen
melaksanakan ibadah. Akan tetapi gereja adalah suatu komunitas milik Allah yang
bergerak, kreatif dan dinamis dalam merespon seluruh kenyataan yang terjadi
ditengah dunia. Sebagai komunitas milik Allah yang telah memperoleh keselamatan
darinya, gereja berfungsi sebagai saluran berkat, menjadi garam dan terang bagi
dunia untuk memproklamasikan dan mendemonstrasikan kehidupan dalam kekudusan
dan kebenaran[7]. Dalam artian gereja harus
mampu menjadi pandu dan teladan bagi dunia dalam pengembangan dan pemeliharaan
kehidupan.
C. Pembahasan
1. Misi Gereja Dalam Kehadirannya Di Tengah Dunia
Misi gereja dalam kehadirannya di tengah dunia adalah misio dei yaitu, misi pemberian Allah
sendiri untuk dilaksanakan oleh gereja dalam mendirikan tanda-tanda kerajaannya.
Misi gereja tersebut biasanya disebut dengan tritugas panggilan gereja yaitu
persekutuan (koinonia), kesaksian (marturia) dan pelayanan (diakonia)[8].
Sejak kehadirannya di dunia hingga pada akhir zaman, misio Dei atau tugas gereja tersebut tidak berubah, akan tetapi
pelaksanannya dikerjakan oleh gereja sesuai dengan tuntutan dan perkembangan
zaman. Dengan kata lain tugas panggilan tersebut harus selalu diwujudkan dalam
setiap situasi dan kondisi sosial yang sedang dihadapi oleh gereja. David J.
Bosch menggunakan istilah “penginjilan” (evangelism)
untuk mengacu kepada kegiatan-kegiatan yang melibatkan penyebaran Injil, atau
refleksi teologis tentang kegiatan-kegiatan itu. Sementara istilah
“evangelisasi” akan digunakan untuk mengacu pada proses penyebaran Injil, atau
Injil yang disebarluaskan.
2. Pergeseran Dalam Menjalankan Misi
Ketika Kekristenan masih kecil, perjuangan terhadap tindakan misi masih sangat berapi-api dijalankan sehubungan dengan menjalankan amanat yang disampaikan oleh Yesus. Orang-orang Yahudi dan Yunani yang sudah menjadi Kristen kemudian berjuang dengan permasalahan berganda, dimulai dari tekanan Romawi, masalah ajaran dan Kanon yang belum selesai dan munculnya bidah dalam ajaran Kristen. Adapun hal ini berada dalam kurun waktu abad 3-4 M, setelah konstantinus Agung menjadi Kristen dan Theodosius agung mensahkan Kristen sebagai agama Negara, maka orientasi misi bukan lagi menjadi sebuah pelayanan yang mengikuti misi kristus, melainkan menjadi sebuah kekuasaan yang besar yang menyatu dengan kekuatan Negara.[9] Penginjilan menjadi salah satu kekuatan Negara yang sangat besar dalam memperluas wilayahnya. Sebab dimana injil di beritakan maka disitu juga wilayah kerajaan. Perlahan kemudian, gereja bahkan mendominasi Negara dengan sejumlah teologinya yang menyesatkan yang dibantu dengan misi yang gereja lakukan. Namun gereja kemudian melalui reformasi Martin Luther kemudian kembali kepada ajaran yang sesuai dengan Alkitab.
3. Misi Dizaman Sekarang
Sebelum Zaman
abad Pencerahan, semua orang yang berada di luar Barat dan dalam kekuasaan Corpus Kristianity adalah “kafir”, sementara
setiap orang yang di Barat dianggap Kristen. Bagi orang barat, Misi Dalam Negeri (penginjilan evangelisme) dinilai secara
teologis berbeda dengan misi (luar negeri). Ciri menonjol dari misi luar negeri
adalah memberitakan Injil di mana belum ada gereja, di mana kedudukan Allah
sebagai Tuhan tidak pernah secara historis
diberitakan, di mana orang-orang kafir menjadi obyek keprihatinan. Jadi,
misi berlangsung dalam lingkungan pra Kristen.
Selain perbedaan yang baru saja disebutkan, sering pula ada
kecenderungan untuk mendefenisikan penginjilan secara lebih sempit daripada
misi. Sementara kaum Roma Katolik dan Protestan semakin cenderung menggunakan kata misi untuk
rangkaian aktivitas gerejawi yang terus-menerus meluas, sedangkan kaum
evangelikal mulai menghindari istilah misi dan hanya menggunakan istilah
penginjilan, juga bagi usaha-usaha di luar negeri. Selama sekitar empat
puluh tahun terakhir telah muncul kecenderungan untuk memahami misi dan
penginjilan sebagai dua kata yang sinonim. Tugas gereja, Barat ataupun di Dunia
Ketiga adalah satu, dan tidak menjadi masalah apakah kita menyebutnya misi atau
penginjilan.
Akibat hal ini
kebingungan lain semakin bertambah ketika istilah
penginjilan atau evangelisasi mulai
menggantikan istilah misi pada tahun-tahun belakangan ini, bukan hanya di
kalangan-kalangan evangelikal yang konservatif, tetapi juga dikalangan Roma
Katolik dan Protestan yang Oikumenis.Dunia nyata yang sedang dihadapi oleh
gereja dan seluruh umat manusia pada masa sekarang adalah dunia pada abad
ke-21, yang lazimnya disebut dengan zaman era globalisasi. Sebagaimana telah
dipaparkan pada bagian-bagian sebelumnya bahwa, era globalisasi di isukan
sebagai zaman penuh harapan akan kemakmuran bagi seluruh umat manusia dengan
pertimbangan terhadap pesatnya perkembangan kemajun ilmu pengetahuan dan
teknologi. Namun sejalan dengan itu kecemasan dan berbagai keprihatinan juga
muncul dan menjadi suatu ancaman terhadap kehidupan manusia baik individu
maupun secara global. Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kekutan
besar dengan gerak yang sangat cepat mempengaruhi seluruh sendi-sendi kehidupan
manusia. Berbagai informasi tersebar sangat cepat ke seluruh penjuru dunia
melalui alat-alat teknologi canggih tanpa dapat dibatasi oleh siapapun.
Informasi tersebut bukan hanya yang konstriktif akan tetapi tidak jarang
juga destruktif yang dapat menghancurkan
nilai-nilai moral manusia.
Era globalisasi dan segala situasi yang terjadi didalamnya
adalah tantangan nyata yang tidak dapat diabaikan tetapi harus dihadapi oleh
gereja. Gereja baru benar-benar menjadi gereja, jika tidak bisu dan membutakan
diri terhadap kenyataan yang terjadi ditengah dunia, tetapi bersuara lantang,
bersikap tegas dan menjadi pemandu umat ditengah-tengah perkembangan zaman.
Apabila gereja tidak ingin kehilangan makna sebagai gereja ditengah dunia dan
agar gereja tetap relevan dan berkenan di hati warganya, maka gereja harus
mengupayakan bentuk pelayanan yang baru dan sesuai dengan keadaan masa kini[10].
Menjadi berkat, garam dan terang serta menjadi pandu dan teladan bagi dunia hal
itu jugalah yang menjadi fungsi kehadiran gereja dalam menjalankan tri-tugas
panggilannya di tengah arus globalisasi. Gereja menjadi gereja yang misioner di
dunia, bukan hanya membawa berita keselamatan dari Allah sebagai bagian yang
sentral dari misi Allah, tetapi juga membangun persekutuan agar setiap orang
percaya bertumbuh menuju kedewasaan penuh sebagai anak-anak Allah sehingga
tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa kelicikan yang menyesatkan.
Gereja dalam pelayanannya harus dapat mencari bentuk pelayanan baru yang tidak hanya dengan dasar kuantitas akan tetapi juga kualitas. Sangat perlu diupayakan langkah-langkah untuk meningkatkan sumberdaya warga jemaat yang berkualitas termasuk para pelayan gereja, agar memiliki dan menumbuh kembangkan budaya yang mendorong setiap orang tetap kritis terhadap dirinya sendiri dan kenyataan yang dihadapi serta terbuka kepada persaingan sehingga mampu bertahan di tengah era globalisasi. Dalam hal ini juga gereja mencegah adanya kekuasaan yang ditampilkan dalam upaya penginjilan yang dilakukan gereja.
4. Panta Ta Ethne
Sebagai Wujud Nyata Pelayanan Misi Gereja
Berkembangnya misi/ penginjilan
dalam kehidupan orang kristen, pada masa gereja mula-mula, tidak lepas dari
sebuah teks yang dituliskan oleh penulis injil matius dalam Matius 28:19-20.
Ayat ini sesungguhnya sangat terkenal dalam sejarah kekristenan maupun sejarah
teologi ataupun penafsiran alkitab. Ayat ini juga disebutkan sebagai amanat
agung yang berasal dari kristus. Berbicara mengenai amanat agung, menunjukkan
indikasi sebuah perintah yang ditujukan oleh Yesus kepada murid-muridnya dan
itu diteruskan nantinya oleh seluruh orang kristen pada masa gereja mula-mula
sampai sekarang.
Penulis
matius menyajikan beberapa hal terkait dengan misi dalam Matius 28:19-20.
Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:19-20).
Mengenai matius 28:19-20, ada sejumlah teolog yang
mengatakan bahwa misi ini hanya ditujukan kepada bangsa yang berada di luar
Yahudi. Seperti yang ditampilkan dalam surat paulus, bagaimana dikemudian hari
kekristenan itu besar dan sangat berkembang karena adanya jiwa yang berapi-api
untuk mengabarkan injil kepada orang diluar Yahudi dan pada akhirnya itu
membuahkan hasil yang luar biasa.
Bosch dalam bukunya transformasi misi kristen mencoba untuk
memahami bahwa kata panta
yang sering diterjemahkan semua, sesungguhnya menyangkut semua bangsa dan
Yahudi juga ada disana.[11]
Bukan berarti ketika berbicara pergilah keseluruh dunia, Yesus berbicara di
israel lalu dunia itu tidak ikut israel di dalamnya. Oleh sebab itu bosch
mencoba untuk memberikan pemahaman bahwa memang ada perbedaan diantaranya dan
disatu sisi israel/ Yahudi menolak kristus, namun bukan itu alasan mereka tidak bagian dari
sasaran karya misi itu. Dalam hal ini berbicara tentang Amanat agung, tidak
lepas dari misi yang disampaikan keseluruh bangsa dan dunia. Injil berjalan dari dalam ke
luar, dari pusat hingga ke ujung bumi.[12]
Adapun yang
mengutus Pekabaran Injil yaitu Allah, dan gereja adalah alat-alat yang Ia
berkenan mempergunakannya. Gustav Warneck mengatakan bahwa “Pekabaran injil
adalah segenap usaha umat kristen yang tertuju kepada penanaman dan
pengorganisasian Gereja diantara orang-orang yang bukan Kristen”. Jadi, subyek
Pekabaran Injil ialah umat kristen. Oleh Warneck diartikan persekutuan
orang-orang percaya, orang-orang yang setia dalam Pekabaran Injil. Obyek ialah
orang-orang yang bukan-Kristen dan tujuan Pekabaran injilGereja.[13]
J. C Hoekendijk
mengatakan bahwa Gereja adalah suatu fungsi didalam Apostolat; yang mana adalah
keseluruhan karya penyelamatan oleh Allah, dan Gereja tidak lain dan tidak
lebih daripada suatu alat didalam gerekan itu.[14]
Namun tidak dapat disangkal bahwa Gereja juga merupakan peresukutuan
orang-orang kudus, orang-orang percaya, tempat penyembahan, petunjuk kepada dan
tanda dari Kerajaan Sorga yang akan datang.
Dalam Mat 28:19 menyebutkan bahwa obyek Pekabaran Injil adalah semua bangsa. Amanat Yesus merangkumi seluruh dunia, segenap umat manusia, bahkan apa yang diciptakan Tuhan seanteronya, termasuk penguasa-penguasa diatasnya. Seluruh kosmos yang bermusuhan dan yang akan binasa itu harus diselamatkandan oleh sebab itu berita kabar baik dialamatkan kepadanya.
D. Penutup
dan Relevansi
Misi gereja adalah mewartakan Firman Allah dalam rangka
mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Misi tersebut tidak akan dapat dilakukan
tanpa diakonia sebab diakonia adalah fungsi gereja yang sebenarnya. Oleh sebab
itu, pelayanan tersebut bukanlah suatu pilihan atau kekhususan bagi para
pelayan tahbisan akan tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab bagi setiap
orang yang telah menerima baptisan. Tugas dari para pelayan tahbisan adalah
membenahi warga jemaat, agar menjadi pelaku diakonia demi pembangunan tubuh
Kristus di dunia. Oleh karena itu diakonia harus mampu memberdayakan, membangun
dan membentuk persekutuan persaudaraan sehingga dalam mewujudkan persekutuannya
jemaat saling bergantung dan saling melayani antara satu dengan yang lain.
Pada masa kini gereja diperhadapkan dengan berbagai
tantangan yang tidak terlepas dari perkembangan zaman. Oleh sebab itu gereja
harus menyadari dalam menyampaikan misinya, gereja tidak hanya membangun gereja
namun juga mengembangkan jiwa mereka sehingga mereka bisa menjadi agen penyampaian
injil dan kemudian bisa ikut dalam mengembangkan misi. Dan
misi yang gereja usung bukan misinya sendiri (Church Mission) tetapi misi Allah
(God’s Mission/Missio Dei). Dalam hal ini juga gereja
harus menyadari bahwa ia hidup dalam zaman kontemporer. Zaman dimana terjadi
kemajuan dan perkembangan yang pesat dalam gereja. Dengan demikian gereja bisa
mengembangkan misinya dengan mengikut sertakan komponen yang sedang berkembang.
Dalam hal ini juga gereja menjadi kontekstual.
Dengan menggunakan kemajuan teknologi gereja juga bisa bermisi dalam
komponen yang modern seperti bermisi dengan penggunaan teknologi seperti
melalui media massa, website dan lainnya. Dalam hal ini juga gereja harus paham
bahwa gereja tidak hanya bermisi bagi manusia tetapi dengan semua yang ada
didunia ini. Gereja juga harus menyadari
bahwa ia tidak bisa terjebak dalam kesombongan dan jatuh kedalam kerakusan akan
kuasa. Misi itu dilakukan melayani bukan untuk kekuasaan dan bisnis. Gereja
tidak harus kembali kepada teologi misi abad mula-mula, tetapi gereja harus
berfikir sesuai konteks pada masa kini dengan tetap menjaga amanat yang
dilakukan Yesus.
|
Magel Haens Sianipar, S.Th, M.Th
F. Daftar Referensi
Arie
de Kuiper. Missiologia. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2006.
Bauer, Susan Wise. Sejarah Dunia Abad Pertengahan, Gramedia: Elex Media, 2016.
Boettcher,Renhard. The
Diaconal Ministry in The Mission of The Curch, Swizerland: LWF, 2006.
Bosch,
David. Transformasi Missi. Jakarta:
BPK Gunung Mulia,2015.
Hunter,A.M.
Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.
Jacobs,
Tom . Paulus, Hidup, Karya dan Teologinya, Yogyakarta: Kanisius,1990.
Lumbantobing,Darwin
. Teologi di Pasar Bebas, P. Siantar:
L-SAPA STT HKBP, 2007.
Nazir,Michael. From Everywhere to Everywhere, Oregon: WIPF, 2009.
Price, Lynne. Theology Out Of
Place, New York: Sheffield Academic Press, 2002.
Radjagukguk,
Robinson. Spiritualitas Keristen dan
Peranan Sosial Gereja Masa Kini, dalam Gomar Gultom, Menggapai Gereja
Inklusif, Tarutung: Kantor Pusat HKBP, 2004.
Sairin,Weinata.
Visi Gereja Dalam Memasuki Milenium Baru,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.
Song, Coan Seng. Allah Yang Turut Menderita. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.
Tim
Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta:
Balai Pustaka, 2002.
Woga,
Edmund. Dasar-Dasar Misiologi.
Yogyakarta: Kanisius 2002.
[1] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), 749.
[2] Edmund Woga, Dasar-Dasar
Misiologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 13.
[3] Arie de Kuiper, Missiologia,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 10.
[4] Arie de Kuiper, Missiologia,37.
[5] A.M. Hunter, Memperkenalkan
Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002). 6.
[6] Tom Jacobs, Paulus, Hidup, Karya
dan Teologinya, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 123.
[7] Weinata Sairin, Visi Gereja
Dalam Memasuki Milenium Baru, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002), ix
[8]Weinata Sairin, Visi Gereja Dalam
Memasuki Milenium Baru, 5.
[9]Susan Wise Bauer, Sejarah Dunia Abad Pertengahan, (
Gramedia: Elex Media, 2016), 6-7.
[10]
Robinson Radjagukguk, Spiritualitas
Keristen dan Peranan Soaial Gereja Masa Kini, dalam Gomar Gultom, Menggapai
Gereja Inklusif, (Tarutung: Kantor Pusat HKBP, 2004), 199
[11]
David Bosch, Transformasi Misi Kristen, (
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 99-100
[12] Michael Nazir, From Everywhere
to Everywhere, ( Oregon: WIPF, 2009), 10-14
[13]
Edmun Woga, Dasar-dasar Missiologi, (
Yogyakarta: Kanisius, 2002), 36-38.
[14] Lynne Price, Theology Out Of
Place, ( New York: Sheffield Academic Press, 2002), 98.

Komentar
Posting Komentar