Roh Kudus dan Iman Kristen


Roh Kudus adalah Roh yang menggerakkan panggilan Yesus Kristus kepada manusia yang penuh dosa menuju komunitasNya dan oleh karena itu sebagai seorang Kristen untuk percaya kepadaNya, untuk menyatakan dan mengakuiNya sebagai Tuhan.

1. Iman dan Objeknya

Iman adalah kebebasan dan manusia secara spontan untuk berbuat sesuatu. Iman hanyalah mengikuti objeknya, yaitu Yesus Kristus. Iman adalah orientasi manusia di dalam Yesus. Ia adalah iman di dalamNya. Iman didasarkan pada objeknya. Seorang manusia tidak mempunyai kebebasan ini kecuali jika Anak (Yesus) membebaskan dia. Ada suatu keperluan iman, yang terletak di tangan Yesus Kristus. Hal itu berlangsung di dalam hubungan iman konstitusi Orang Kristen. Sebagai seorang manusia yang berbuat sesuatu, iman terkandung dalam suatu pengenalan, dan pengakuan. Iman bukan  sekedar teori, tetapi iman itu kreatif.[1]

2. Fakta Iman

Iman Kristen adalah kemerdekaan seorang manusia untuk berbuat sesuatu, sehingga ia disebut sebagai tindakan hidup orang Kristen. Iman menguasai hampir semua dalam batin dan tindakan hatinya dan mengkonfirmasikan kebebasan Kristennya, tanggung jawab, dan ketaatannya. Iman Kristen adalah suatu pengetahuan di bawah satu peristiwa, yaitu peristiwa di mana Yesus Kristus di dalam kuasa Roh Kudus membangkitkan iman manusia.

Iman kepada Yesus haruslah sebagai iman penerimaan terhadap pesan Kerajaan Allah. Dibelius benar dalam memahami iman sebagai tanda penerimaan pesan Kerajaan Allah. Baginya, iman merupakan peralihan kepada utusan Allah dan keselamatan ilahi. Setiap orang yang mengerti tanda-tanda Kerajaan dan yang mendengar panggilan Allah akan juga mengalami kekuasan Kerajaan yang sedang bekerja. Menurutnya, “Yesus dan para murid nya hidup dalam kontak sehari-hari dengan suatu sistem dari kealiman yang dibangun atas suatu perhitungan yang masuk akal hubungan manusia kepada Allah, dan dengan demikian menetapkan diri sendiri atas Allah. Dengan alasan, Yesus tidak pernah bosan pemilikan di depan zaman ini nya dan teman sebangsa fakta bahwa mereka harus tidak menentukan kepada Allah bagaimana kasih karunia nya dan kegusaran nya harus dibagi-bagikan".[2]

Iman kepada Allah dalam Yesus Kristus adalah iman atas pemberitaan Kerajaan Allah yang dibawa Yesus Kristus dari/dan bersama Allah. Di sini, iman kepada Allah dalam Yesus Kristus, dalam hubungannya dengan kemerdekaan tentu akan terkait erat dengan Kerajaan Allah. “Kerajaan Allah dipahami sebagai hal-ikhwal memerintahnya Allah di dalam dunia dan kehidupan manusia”, demikian dikatakan Marthinus Th. Mawene dalam Teologi Kemerdekaan-nya. Hal ini valid jika kita mengikuti konsep awal bahwa Yesus Kristus merupakan Evangelium atas Kerajaan Allah dari Perjanjian Lama. Di Perjanjian Lama, dengan pengakuan bahwa Allah adalah Raja seluruh dunia (dan juga atas umat Israel), maka penataan seluruh kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan berkeagamaan di Israel dalam suatu konsep teokrasi yang ketat. Raja Israel adalah wakil Allah di ‘Erets Yisrael’ dengan sebutan sebagai ‘anak Allah’ atau ‘anak Tuhan’. Dengan demikian tugas utama raja di Israel adalah tidak lain mengupayakan supaya syalom pemberian Allah yang mencakup seluruh keadaan ideal dari suatu bangsa/masyarakat dinikmati oleh seluruh umat Israel.[3]

Pemberitaan kerajaan Allah atau dengan kata lain iman atas rencana dan tindakan Allah dalam sejarah manusia akan berkaitan erat dengan masalah kemerdekaan. Kemerdekaan, sebagaimana dikatakan Mawene tidak lepas dari kendali dan kehendak Allah. Kemerdekaan adalah kualitas kehidupan yang benar di hadapan Allah yang nyata dalam seluruh aspek dan bidang kehidupan.[4] 

Sehubungan dengan konsep iman, Barth sangat menekankan bahwa iman harus didasarkan pada pemahaman kita kepada Allah dalam penyataan Yesus Kristus. Inilah makna iman kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, kita harus melihat Allah sebagaimana kita melihatnya di dalam Yesus Kristus (sebab Yesus Kristus telah mengungkapkan siapa Allah melalui diriNya sendiri). Penyataan dalam Yesus Kristus adalah self-revealing-nya Allah sendiri, sebagaimana dikatakan Barth, “Tuhan dengan tepat menyatakan dan memberi diri-Nya.” Dan dengan kenyataan ini, pada akhirnya kita dapat memahami bagaimana Barth menekankan bahwa Yesus Kristus yang berasal dari anugerah Allah justru membebaskan manusia. Itulah juga sebabnya patut dimengerti mengapa Barth tidak membahas konsep kebebasan terbatas pada pembebasan atas dosa-dosa manusia. “Firman waktu peneguhan bukan Sabda dari moralitas yang ilahi tidak sesuai dengan kecabulan manusia”, ujar Barth. Menurutnya, dengan penggenapan perjanjian Allah, manusia dibebaskan berhubungan dengan Allah. 

Dengan demikian, menurut penulis, iman kepada Allah dalam Yesus Kristus haruslah di dalam bingkai teologis pemberitaan Kerajaan Allah. Iman kepada Yesus Kristuslah haruslah dalam rangka mempercayai berita Kerajaan Allah yang dibawaNya dari Allah. Dengan kesadaran atas makna iman yang demikian maka kita akan dapat memahami kemerdekaan[5] yang dikirimkan Allah melalui Yesus Kristus. Iman kepada Kristus, atau dengan kata lain menjadi hamba Yesus Kristus pada dasarnya akan membuat kita bebas. Hal ini dapat diperjelas melalui perumusan demikian: Janji mengenai Kerajaan Allah adalah janji tentang berita pembebasan, maka dengan mengimani Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah, demikian pula berarti kita juga mengimani bahwa kebebasan yang dibawanya telah kita peroleh.

-        Iman adalah anugerah pembebasan dari Allah sendiri yang diberikan kepada manusia, sehingga manusia dimampukan untuk menikmati firman Allah melalui pemberitaan Gereja.

-      Iman Kristen adalah penerangan akal budi, di mana manusia dimerdekakan dalam pembenaran oleh Kristus, sehingga manusia dapat memahami makna dari eksistennya sebagai mahluk ciptaan Tuhan di dunia.

-   Iman Kristen merupakan kebebasan yang bertanggung jawab yang lahir dengan kerelaan dan bukan karena paksaan, sebab iman itu lahir dari kepercayaan dan pengakuan kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian iman kristen, bukanlah iman yang pasif atau mati, melainkan iman yang hidup yang dinyatakan dalam perbuatan dan aksi.

-   Pemahaman iman yang benar haruslah didasarkan pada penyataan Allah di dalam diri Yesus Kristus, di mana dalam rangka melihat Allah, kita juga harus melihat Yesus Kristus sebagai anugerah yang membebaskan manusia.

-     Konsep dari iman yang telah dianugerahkan kepada kita harus dibingkai secara teologis, sehingga refleksi dan implementasi iman yang kita miliki tetap mengacu pada pemberitaan Kerajaan Allah di dunia.

 

 Magel Haens Sianipar, S.Th, M.Th



[1] Karl Barth, Op. cit, hlm. 23

[2] Martin Dibelius, Jesus, (religion-online.org)

[3] Marthinus Th. Mawene, Teologi Kemerdekaan, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004, hlm. 69-70

[4] Ibid, hlm. 72-73

 

Komentar